Thursday, May 3, 2012

SALAHKAH AKU

Badanku gemetar, dadaku berdebar, jantungku belum berhenti memompa kencang darah ke kepala. Syukur saja, tidak membuat aku pusing. Kuayun langkah kaki yang serasa berat digerakan setengah berlari pulang ke rumah. Aku belum puas rasanya melampiaskan amarah ini, tapi aku malu kalau aku terus berada disana. Kalau aku masih disana, mulutku ini tidak akan bisa ditahan mengeluarkan kata-kata umpatan yang tidak pantas didengar. Alhamdulillah otakku masih bisa mengontrol emosi ini. Makanya aku cepat dan cepat ingin sampai di rumah. Jalanan kerumah ku sebelum menempuh gang melewati stasiun kareta api, melangkahi beberapa rel besi, menginjak kerikil-kerikil yang ditebar diatas bantalan jalan kareta api seakan tidak menjadi penghalang besar buatku melintasinya dengan kondisi badanku yang tengah hamil berjalan cepat. Aku ingin cepat melaporkan ke suamiku. Aku ingin mencurahakan perasaan emosi ini padanya. Dengan harapan, kepada orang yang selalu melindungiku, membela aku. Ya suami, orang yang memberi perhatian, melindungi, tempat mencurahkan segala masalah. Aku sudah berapa tahun hidup di rantau dengan dua anak perempuanku dalam gelombang kehidupan ibu kota Jakarta.

Dari sejak kecil aku sudah yatim mamaku sudah menghadap Yang Kuasa saat melahirkan aku. Pengganti mamaku, yang aku panggil Ibu adalah kakak ibuku. Dialah yang mengasuh dan membesarkan aku. Dulu dari kecil sampai aku berkeluarga pun biasanya aku sering mengadu, bercerita, berkeluh kesah dan membagi ke ibuku kalau aku menghadapi maasalah. Ketika aku sudah berkeluarga dan jauh darinya aku kadang-kadang menelpon untuk menceritakan maasalah yang ku hadapi meski dia tidak membantu, cukup mendengar lalu memberi nasehat, lalu aku menjadi lega. Sudah beberapa tahun ini ibuku juga sudah tiada. Aku bersyukur mempunyai suami yang bisa menjadikan pengganti orang-orang yang menyayangiku dari kecil. 

Meskipun aku hidup pas-pasan, tinggal di rumah kontrakan bedengan, diantara deretan, tumpukan rumah-rumah kecil dan gang-gang sempit di tengah ibu kota, aku masih bisa menjalani kehidupan ini. Walau berat dan tertatih-tatih. Kebutuhan anak sekolah, adalah prioritas utama yang paling aku dahulukan. Aku benar-benar harus bisa memilah-milah pendapatan suamiku yang sangat terbatas menjadi cukup ada. Suamiku berdagang di pasar, penghasilan tidak menentu tergantung nasib. Sudah bertahun-tahun aku menjalani kehidupan berumah tangga dengan usaha suami seperti ini, namun keadaan belum berubah menjadi lebih baik. Aku dan suami menjalani dengan sabar, suamiku selalu menuntun mendalami makna sabar dari waktu ke waktu sampai sekarang. Syukur, aku juga sudah terbiasa dalam keterbatasan dan kerasnya hidup bersama ibuku dengan saudara-saudara sepupuku dari kecil.

“Yang penting hidup berusaha, berusaha sekuat tenaga dengan cara yang benar dan halal. Selebihnya kita serahkan ke Yang Maha Kuasa lalu menunggu dengan sabar” begitu suamiku pernah menasehatiku.
Tapi, pagi itu apa yang telah terjadi di depan guru-guru di sekolah anakku tadi, aku tidak bisa sabar. Emosiku memuncak, dadaku panas, naik ke kepala. Mungkin sabar dalam maasalah barusan ini beda dengan sabar yang diajarkan suamiku. Tapi benar, aku akhirnya melabrak orang itu.

Aku sudah berusaha mengikuti aturan sekolah dengan baik. Karena tidak ingin mengecewakan anakku. Sudah aku usahakan membayar uang untuk jalan-jalan liburan sekolah sebagaimana program sekolah. Dengan memanfaatkan uang belanja dapur yang aku kurang-kurangi selama sebulan ini agar bersisa untuk rencana jalan-jalan anakku di akhir tahun ajaran ini. Jujur sebenarnya aku tidak mampu untuk membayar dan mengikuti acara sekolah anakku itu. Dan juga aku tidak mampu berjalan jauh ke pantai di Suka Bumi dengan kondisi berbadan dua yang sudah empat bulan ini, alasan lainnya anak aku suka mabok jika berjalan jauh. Lagian, tidak mungkinlah aku tega melepas anakku yang baru berusia lima tahun pergi tamasya tanpa orang tua sejauh itu. Semua anak-anak ditemani orang tuanya. Karena sekolah sudah meanggarkan biayanya dengan menyewa bus pariwisata berdasarkan jumlah siswa, sehingga ikut atau tidak ikut harus bayar. Jadilah aku terpaksa untuk membayar dengan cara menghemat uang belanja dapur, dan ku paksakan juga nantinya untuk ikut menemani anakku. Padahal lepas tahun ajaran ini anakku ini masuk sekolah SD, butuh biaya lagi, dan kakaknya lulus SD akan butuh biaya banyak ke SMP. Darimana uang sebanyak itu akan di carikan suami nanti. Lagi pula anakku ini TK, kalau tidak ikut berlibur mengikuti sekolahnya itu, tentu tidak akan menjadi maasalah untuk masuk ke SD. Namun ku abaikan semua itu, bagaimana pun juga aku usahakan demi anakku.
Ibu-ibu guru panitia itu sudah mengatur tempat duduk di bis nanti. Begitu aku tahu pagi itu tempat dudukku jauh dibelakang terpisah dengan anakku.
Pagi itu, aku agak terlambat pergi sekolah mengantar anakku. Beberapa ibu-ibu, orang tua murid yang biasa menungguin anaknya di sekolah sudah duluan ramai berkumpul sambil ngerumpi.  Selembar kertas ditempel didinding dibelakang tempat orang tua menunggu anak-anaknya bertulisakan nomor bis dan nama-nama bangku penumpangnya anak murid dan orang tuanya. 

Setelah aku mencari lalu membaca betul-betul nama anakku Zelni dan mama Zelni di kertas skema tempat duduk bis itu, aku kaget. Aku datangilah ibu guru kelas anakku. Aku sampaikan maksudku. Ibu guru yang salah satu panitia itu tidak jauh dari tempat orang tua murid menunggu anak-anaknya.
“Bu, maaf bu, tempat duduk saya dan anak saya, tolong diatur supaya duduk berdekatan dengan anak saya.”, aku dengan baik-baik memohon ke guru kelas anakku. 

“Maaf bu, kami sudah menyusunnya, memangnya kenapa mama Zelni?” bu guru mencoba menolak permintaankku.
“Begini bu, saya sedang hamil, saya tidak bisa duduk dibelakang, dan lagian anak saya Zelni naik kendaraan suka mabok” jelasku.
“Wualaaaah,… waktu acara sekolah di mall bulan lalu naik angkot ngak mabok”, celoteh sahutan  seorang ibu, orang tua murid teman anakku juga.

Seer,…. darah ku naik ke kepala mendengar sahutan dibelakangku. 

Aku belum sempat menjawab komentar ibu itu yang lagi menunggu jawaban dari bu guru, ibu yang nyeloteh itu melanjukan isi mulutnya “kalau mau enak, sewa mobil pribadi aja buk…..” menoleh kearah ku.

“Heh, lu, jaga mulut tu ya” dengan menyebut nama binatang terusanya. 

“Jangan kurang ajar lu?, apa urusan lu sama urusan gue?”. Aku berteriak kencang menantang dia. Semua yang tadinya duduk-duduk berdiri melihat kearahku

“Kalau gue bisa punya mobil, gue kagak bakalan naik bus kayak lo”. Sambil ku mendekat kearahnya
.
“Dasar,…” lagi aku dengan menyebut nama binatang. Sambil menunjuk-nunjuk ke dia. Seorang ibu yang tidak teperhatikan olehku menghalangi aku yang mendekat ke dia.

“Yang punya anak itu, gue, bukan lu. Mana lu tau anak gue mabuk tidak nya” aku terus bicara emosi setengah teriak.

“Sudah mama Zelni, sudahlah, mungkin mama Arif bercanda” ibu yang duduk disampingnya menenangkanku.

“Bilang tu ke dia jangan ikut campur urusan orang deh” sambil aku terus menunjuk-nunjuk ke dia.
Si Ibu itu diam seribu basa, kepalanya menunduk, entah malu atau ketakutan.

“Iya mama Zelni, iya, iya, tenanglah”. Sahut ibu-ibu yang lainya, memegang pundakku dari belakang.

“Emang lu siapa? Apa maasalah lu sama gue?”

“Malu buk banyak orang dan menganggu anak-anak kita yang lagi belajar di dalam” Ibu yang memegang pundakku terus menasehati aku.

“Lu ngak senang ya melihat gue, apa salah gue sama lu?” aku terus berbicara menghardik ke ibu yang biasa dipanggil mama Arif, orangnya bebadan besar dan kuat. Sebenrnya kalau dia melawan aku, lalu beradu fisik mungkin aku bukanlah lawan tandingnya, aku akan lansung KO. Tapi kebesaran badannya menjadi ciut karena ocehanku.

“Gue ngak pernah repotin lu, ngak pernah berhutang ama lu”. Sambil langkah surut sedikit menjahui dia, karena di tarik oleh seorang ibu lainnya.

“Jangan kurang ajar ya lu ama gue, gue kagak takut ama lu”. Aku terus melampiaskan emosiku tanpa mempedulikan ibu-ibu yang menarikku.

“Kak, tolong bilangin ke ibu guru itu, aku tidak bisa duduk terpisah dari anakku” kepada seorang orang tua teman anakku, dengan menggunakan bahasa daerahku. Kakak itu berasal satu daerah denganku.

“Aku ni, lagi hamil, anakku suka mabok, untuk apa orang tua ikut kalau tidak bisa dekat dan menjaga anakku nanti?” jelasku masih pakai bahasa daerah juga, biar ibu guru disitu tidak mengerti, aku minta bantuan untuk menyampaikan kemauanku. 

Aku berlalu, meniggalkan kerumunan ibu-ibu yang merumpi sambil menunggu anak-anak mereka. Aku tidak melihat ibu guru yang tadi ku sapa entah berdiri dimana. Tadinya ikut menenangkan aku juga. Pandanganku sedikit gelap. Banyak kepala berdiri menghalangi aku, kwatir aku menampar atau memukul wajah si ibu yang membuat aku berang sekali itu. Ku melangkah cepat keluar pekarangan sekolah TK anakku. Penjual jajanan gerobak yang berderet di luar pekarangan sekolah itu matanya tertuju melihat kearah ku. Aku tidak peduli pandangan mereka. Entah apa kata-kata dalam hati mereka yang tidak tahu penyebabnya aku berteriak-teriak menghardik seorang ibu itu. 

 “Aku benar, aku tidak bersalah, aku pantas berbicara seperti itu, aku pantang diganggu” dalam hati aku terus berjalan mendekati rumah ku yang melewati gang-gang sebatas jalan motor roda dua. Apa yang terjadi tadi itu benar-benar di luar kendali aku, semuanya bergerak, mengalir dan keluar kata-kata ini begitu saja. Beberapa langkah lagi aku sampai di rumah. Ku rasa-rasakan dengan heran terhadap diriku sendiri mengapa aku bisa berani seperti itu?. Rasanya belum pernah aku berbuat, berprilaku sehingga menjadi tontonan orang banyak seperti tadi, meski ada yang memancing emosi ku seperti yang terjadi tadi. Apakah bawaan aku sedang hamil sekarang? Apakah anak yang aku kandung ini laki-laki? Dan menjadi anak yang super pemberani? Ah, ada-ada saja pikiran ku ini. Tapi,… atau apakah karena himpitan kesusahan hidup yang aku jalani ini? Ya, semuanya ku serahkan pada Yang Kuasa. Tentu Dia yang lebih tahu, kalau tadi aku sudah salah ampuni aku ya Allah.

Ku dorong pintu rumah yang tidak terkunci. Cepat ku bangunkan suamiku yang masih tidur. Sirkulasi waktunya agak terlambat dari normal aktifitas orang pada umumnya. Usaha suamiku dimulai kalau sudah siang sampai tengah malam, hampir dini hari baru di tutup. Jadi selesai subuh tiap hari dia meneruskan tidurnya. Sampai waktu Zuhur tiba.

“Bang, bangun bang, Abang, saya barusan berantam di sekolahan Zelni” aku membangunkan suamiku.
Begitu medengar kata berantam suamiku kaget dan bangun.
“Berantam bagaimana?”

“Iya, palak saya, saya sudah emosi begitu tahu tempat dudukku dengan Zelni terpisah saat jalan-jalan nanti, sudah susah-susah berusaha membayar, fisik saya begini,… mikirin biaya anak sekolah, sebentar lagi tahun ajaran baru, ada orang di sekolah Zelni tadi menambah pusing dan membuat saya emosi bang”, panjang lebar aku mengoceh, suami ku bingung tidak menemukan jawaban yang dia tanyakan.

“Emosi bagaimana?” sambil mengusap-usap matanya duduk di pinggir tempat tidur, dengan bertambah bingung.

“Coba ceritakan, apa yang terjadi sama kau?” suamiku bertanya dengan tenang.

“Iya, sekarang saya tanya ya, sama abang”, aku malah dengan nada tinggi seperti marah ke dia. Begitulah caraku mengadu, melampiaskan emosiku yang tersisa.

“ Anggap saya ini bukan siap-siapa abang, anggap saya orang lain disini bertanya”
“Salah kah saya……?” kemudian ku ceritakan dari awal kejadian yang membuat aku emosi, marah-marah dan berantam.

Suami aku tidak memberikan jawaban bahwa aku benar atau tidaknya.
“Aku, mengapa kamu berubah sekarang? Jadi pembrani, mudah tersinggung begitu? Kamu itu kan orangnya penakut”, suamiku malah bertanya heran. 

“Jaganlah terlalu emosi dan cepat naik darah begitu. Ingat, kamu lagi hamil. Takutnya kesehatan anak kita baik secara fisik atau phiskologis jadi terganggu,” suamiku sok phiskiater saja, dia malah menasehati aku. Padahal aku menanti jawabannya, apakah aku salah?

“Bang, saya tidak mau ke sekolah Zelni menjemputnya. Abanglah yang jemput nanti”, dengan cemberutku minta dia mengantikan tugas aku.

“Iya”, suamiku melanjukan tidurnya lagi, lalu berkata “nanti bangunkan aku untuk menjemput Zelni”.
Aku mengiyakan kata suamiku, dalam hati masih membela diri, merenungkan apa yang telah terjadi, bukan salahku.(*)

mencoba mengubah sebuah khayalanku menjadi corat-coretan cerpen, Mei 2012


Wednesday, May 2, 2012

KENANGAN HARI PERTAMAKU MASUK SD

Aku tidak tahu harus berapa lama menunggu waktu untuk masuk sekolah setelah mendaftar. Bulan depan kata amakku.  Entah apa artinya itu. Aku tidak peduli lagi tentang sekolah dan tidak merasa menunggu waktu. Karena tidak ada uda-uda, uni-uni disekeliling rumahku pergi sekolah. Tiap hari anak-anak dikampung sekeliling rumah, banyak bermain-main dan bermain. Aku lupa sudah ajakan si Ing tentang sekolah, toh dia juga tiap hari dari pagi, siang sampai sore banyak bermain-main di halaman depan rumah si Jum. Halaman rumah si Jum tempat berkumpul anak-anak bermain di lingkungan sekitar rumah di kampungku, selalu ramai tanpa ada yang mengkomandoi. Halaman rumahnya bagus untuk bermain. Tidak ada rumput, tanahnya bersih, kering, tidak berbatuan, datar dan terlindungi dari sinar matahari. Pohon-pohon besar disekelilingnya. Pohon durian, jambu, nangka. Halaman rumah itu dikelilingi kebun yang dipenuhi juga tanam-tanaman muda, seperti kopi, talas, pisang, ubi kayu dan sebagainya. Kalau bermain petak umpet sangat bagus untuk tempat bersembunyi.

Masa-masa yang hanya senang bermain-main. Pagi-pagi sekali, amak menyuruhku bangun pagi, membawaku mandi ke pancoran di baruah. Rupanya aku baru mengerti, setelah amak memakaikan baju. Aku ingat sewaktu pergi bersama amak, katanya mendaftar sekolah. Baju kaus coklat belang-belang, dan celana pendek coklat bekas pemberian orang. Aku sangat senang sekali. Hari ini waktu masuk sekolah sudah tiba. Aku sudah lupa kalau sekolah pakai seragam putih merah yang pernah dikatakan si Ing, dan aku lupa janji amak akan membelikan aku baju seragam baru. Aku lupa dalam kesenangan. Hari ini aku akan pergi ke sekolah, bisa bermain dengan banyak teman dan bisa pakai sepatu. Untuk beli seragam sekolah, amakku belum juga punya uang. Meski aku anak pertama yang akan baru sekolah. Ketidak mampuan, keterbatasan dan keadaan amak dan apak, aku memakai apa adanya. Toh, mungkin orang tuaku itu sudah berusaha keras, kenyataannya hasil usahanya sekedar dapat memenuhi isi perut siang dan petang untuk aku, si Al dan si Wel, adik-adikku. Hasilnya sekedar pembeli beras untuk satu hari makan, garam dan cabe untuk sambal sebagai lauknya..

Pagi itu langit diselimuti awan tipis, udara dingin dan segar seperti biasa menemani pagi di kampungku daerah kaki gunung. Pancaran cahaya matahari menyebar tertutup warna kelabu. Cukup menghangatkan dingin serta menguapkan embun yang melembabkan tanah, daun-daun rumput di pematang sawah dan rumput-rumput liar di tepi jalan kampung. Dua adikku ditinggal bersama mak gaekku dirumah. Apakku sudah berangkat setelah minum segelas kopi mencari nafkah. Aku yang ditemani amakku berangkat ke sekolah. Antara rumahku ke sekolah melewati satu jalur yang berbahaya. Yaitu jalan raya besar, jalan raya Padang - Bukit Tinggi. Orang tua sangat was-was sekali kalau melepas anaknya kesekolah sendiri, apalagi aku yang pertama kali ke sekolah. Selain itu, peraturan sekolah di hari pertama sekolah diharapkan orang tua murid agar bisa datang untuk  serah terima anaknya kepihak sekolah untuk menyerahkan tanggung jawabnya ke guru selama jam pelajaran sekolah.

Dalam pelajaran geografi, Negara Indonesia terletak di jalur strategis, yaitu di antara dua benua Asia dan Australia, dua samudra Hindia dan Fasifik. Kalau geografis sekolahku juga terletak diantara dua jalur. Sama-sama dua jalur, tapi sekolah ku terletak diantara dua jalur berbahaya, yaitu antara jalan raya utama propinsi dan jalur Kareta Api. Sekolahku hanya berbatasan selokan dengan jalur kareta api. Tanggung jawab guru cukup berat saat jam istirahat, tapi karena sudah naluri dalam kondisi berbahaya tiap hari dan sudah biasa, kondisi menyatu dengan jiwa, insting anak-anak sekolah cukup tajam kalau ada bahaya kendaraan atau kareta api akan tiba. Sehingga Alhamdulillah, selalu aman dan belum pernah anak-anak yang ditabrak kareta api.

“Nah, ini baru sekolah, ramai banyak uda-uda, uni-uni bermain-main” bathinku berkata begitu sampai dihalaman sekolah. Sebagian anak-anak seusiaku sudah memakai baju warna putih dan merah. Ada yang lengkap ada juga yang tidak. Belang, baju putih, celana atau rok warna lain, atau sebaliknya. Masih banyak juga yang belum pakai seragam seperti aku. Masih lumayan ada yang berpakai seragam meski kelihatan bekasnya, biasanya seragam hibahan dari kakaknya.

Di halaman sekolah didepan ruangan kelas satu, anak-anak murid baru dikumpulkan.  Seorang ibu guru kemudian menyuruh berbaris. Anak-anak baru jadi tontonan kakak-kakak kelas dan para orang tua yang mengantarkan anaknya. Bu guru kewalahan mengatur calon muridnya itu berbaris, diatur didepan di belakang kacau, diatur di belakang di depan berantakan. Tidak lama kemudian semua disuruh masuk ruangan kelas satu persatu dan disuruh memilih bangku tempat duduk yang disukai. 
Begitu giliranku masuk ke ruangan, aku memilih bangku paling depan. Kebanyakan anak-anak memilih dibagian tengah dan belakang. Setelah semuanya masuk, cahaya ruangan kelas menjadi redup, ternyata di luar jendela kelas para penonton ketika berbaris tadi, bekelompok-kelompok berdiri menonton, mengintip ke ruangan. Sehingga menutupi cahaya masuk.
Aku heran, mengapa kakak-kakak kelas diluar itu tidak masuk ruangan kelasnya?. Ibu guru membiarkan keadaan seperti itu. Perhatiannya tertuju kepada anak murid baru kelas satu. Lalu ibu itu menunjuk satu-satu dan disuruh pindah tempat duduk sesuai keinginan ibu guru itu. Bagaikan orang main catur yang memindah-mindahkan anak catur dengan menggunakan telunjuk. Yang duduk dibelakang dipindah kedepan, di depan ketengah atau ke belakang, ke samping, ke  kiri dan kanan. Beberapa murid tidak kena tunjuk dan tidak pindah termasuk aku. Aku tetap duduk di meja pilihanku didepan.

Di luar jendela ruangan kelas terdengar cekikan dan tertawa kecil kakak kelas dan orang tua seperti menonton pertunjukan yang lucu melihat murid-murid baru duduk setelah diatur. Setelah selesai ibu guru mengatur, aku perhatikan yang badannya kecil-kecil seperti aku duduk dibagian depan, yang menegah di tengah dan yang besar dan tinggi di belakang. Setiap meja yang dilengkapi bangku panjang di tempati tiga orang, kalau anaknya berbadan besar. Empat anak sebangku bagi yang berbadan kecil. Kemudian setiap meja ditengahnya anak perempuan. Kalau di mejanya ada empat orang, jadi ada dua anak perempuan di tengah-tengahnya.
Aku berbadan kecil dan kurus, jadi di mejaku ibu guru menempatkan empat orang. Aku duduk dipinggir sebelah kiri, dua orang anak perempuan di tengah dan paling kanan laki-laki. Jadi di mejaku kami ada dua pasang.

Rupanya karena kondisi itulah kakak-kakak diluar jendela dan orang tua murid baru menjadi cekikikan dan tertawa. Melihat anak-anak kecil ingusan dalam ruangan kelas duduk bersanding-sanding antara laki-laki dan perempuan. Ini adalah aturan sekolahku. Kata bu guru tujuannya biar kelas jadi tenang dan tidak ribut selama jam belajar. Aturan duduk ini berlaku untuk anak kelas satu sampai kelas empat.
Namun dibalik tujuan guru itu, bagi kakak kelas, kami dibilangin pacaran. Di hari pertama sekolah, sepertinya hari kami dijodoh-jodohkan. Di usia tujuh tahun itu jadinya aku sudah mengenal kata “pacaran” dari kakak kelas. Menurutku artinya laki-laki dan perempuan duduk berdekat-dekatan. Aku merasa malu, benci, tidak suka dan menggerutu.
Akhirnya aku tidak berani menyapa teman perempuan, termasuk yang duduk disampingku. Tidak bertegur sapa, aku jadi penakut sama anak perempuan. Pada hal aku kenal dengan dia yang duduk disampingku itu. Kata amakku, dia adalah bako ku. Ibunya masih ada hubungan keluarga dengan apakku. Dianya sekolah hanya beberapa bulan saja. Karena rumahnya di desa Subarang, jaraknya jauh dengan sekolah. Berjalan kaki beberapa kilometer. Kalau ke sekolah harus menyebrang sungai, jika hari hujan atau sungainya meluap dia tidak berangkat ke sekolah.
Di tengah sebelah kanannya lagi anak perempuan berbadan kecil, rambutnya lurus-lurus pakai bado. Menurutku dia gadis kecil yang cantik, rambutnya wangi. Harumnya sampai ke hidung. Apalagi ketika aku deg-degan dan bernafas dalam-dalam. Dia digelari teman-temanku si kaciak, artinya si kecil.
Setelah beberapa bulan sekolah berjalan kemudian aku digelari oleh kakak kelas pacaran dengan si kacik, pada hal temanku laki-laki sebelahnya tidak digelari. Aku tidak suka digelari pacar-pacaran, jadi aku tidak pernah menyapa atau berbicara saja sama dia. Si Kaciak.

Kembali ke awal hari pertama masuk sekolah.

“ Anak-anak, tolong diam” ibu guru menenangkan suara ribut dari anak-anak yang di bangku belakang.
“Tangan dilipat, letakan di atas meja, seperti ini,” bu guru memerintah dan mengasih contoh cara melipat tagan diatas meja.

Semuanya mengikuti dengan patuh, diam dan tenang memperhatikan bu guru.
Ibu guru membacakan satu persatu nama-nama murid barunya. Siapa namanya yang di sebut tunjuk tangan. Aku bangga sekali ketika giliran namaku dibaca bu guru, dengan semangat dan sangat cepat aku angkat tangan dan berteriak “ saya buuuk”.

Setelah selesai bu guru membacakan nama-nama muridnya, lalu bu guru bertanya “anak-anak, tadi pagi sudah mandi semua beluuuum?”

“Sudah buuu…….k”, jawab murid serempak, aku terlambat mengikuti kor kalimat itu, aku malu.

“Bagus” jawab bu guru membanggakan.

“Anak-anak, besok duduk di bangku kalian seperti ini lagi. Tidak boleh pindah-pindah, tempat duduknya harus seperti ini, mengerti………..?” suara bu guru lantang dan menggema kan ruangan kelas.
“Mengerti buu…k” jawab anak-anak serempak lagi.
“Kalian sekarang sudah sekolah, jadi…….. pagi-pagi harus selalu cepat bangun pagi, mandi, gosok gigi, biar jadi anak pin,…..” bu guru mengantung lanjutan kata-katanya, sambil badanya di bungkukan sedikit.
“taaaar” ibu guru meneruskan lanjutan kalimatnya yang memberi tahu dan mengigatkan murid-muridnya. Sambil terus berjalan ke kiri dan ke kanan modar mandir.
Dalam hati aku bangga mendengar kata-kata bu guru itu, “sudah sekolah”. Berarti aku sudah besar.

“Siapa yang mau mandi pagi dan gosok gigi……?” Tanya bu guru lagi.
“Saya buu…k,” saya sudah berani mengeluarkan suara serempak dengan teman-teman yang lain. Setiap kali mengucapkan “saya buk” tangannya diangkat keatas tinggi-tinggi dan jari telunjuk mengacung.

Semuanya semangat, semuanya balapan angkat tangan. Hatiku senang, aku sudah tidak malu-malu, dan tidak ragu lagi. Berteriak “saya buk”, terus angkat tangan sambil telunjuk mengacung.  Aku sudah tersihir pagi itu dengan semangat, sepertinya pertama kali menjalani kehidupan baru dalam hidupku. Tanya apa saja bu guru, pokoknya angkat tangan secepatnya. Aku menjadi yang paling cepat angkat tangan. Bu guru belun selesai bertanya, tanganku sudah naik duluan dari teman-teman yang lain. Pada hal tidak semuanya ku paham apa yang ditanyakan. Teman perempuan di sebelahku tidak membuat aku jadi pemalu lagi, tapi malu menyapanya, takut untuk berbicara padanya.

Ibuu guru bertanya lagi“siapa yang mau jadi ketua kelaa…s?”.  Aku paling cepat menunjuk “Saya buuu…k”
Padahal aku tidak mengerti apa itu ketua kelas. Ibu guru menunjukku ketua kelas karena aku paling cepat menunjuk, angkat tangan.
“Ya,…. ini yang cepat angkat tanganya” kata bu guru menunjuk ke aku.

Lalu aku diajari ibu guru tugas ketua kelas setiap pagi untuk menyiapkan kelas ketika bu guru sudah duduk di mejanya. Yang lain mengikuti aba-aba yang berikan ketua kelas.

“Siap grak, hormat grak” aku mengikuti ucapan bu guru. Ketika hormat grak, semua kepala serentak menunduk ke meja dengan posisi tangan dilipat dimeja. Di tahan beberapa detik, lalu “tegak grak” kata bu guru, aku mengikutinya. Semua kepala berdiri lagi.
“berdoa, mulai” lanjutnya.

Aku dan semua murid baru diajari membaca doa yang bunyi nya, “bismillahirahmanirrahim, Rabbitubillahi rabba wabil islaamadina, wabil muhammadin nabiyau warasullah, rabbiziqni ilman wazuqni fahman…..amiin”

Jika pelajaran berakhir, mau pulang sekolah, ketua mensiapkan lagi. Tetapi bedanya membaca doanya dengan membaca Al Fatihah saja.

Lebih kurang dua jam sudah berlalu. Pagi bertambah terang. Ibu guru mengakhiri pembukaan tahun ajaran baru tahun 1983 untuk murid baru kelas satu SD Negeri 2 Guguk, Kayu Tanam. Aku disuruh menyiapkan kelas untuk pulang dengan membeo mengikuti kata-kata bu guru karena belum bisa. Aku dan semuanya keluar ruangan kelas seperti anak itik keluar kandang. Orang tua menyambut anak-anaknya dihalaman. Kakak kelas yang mengintip di jendela sudah bubar masuk ke kelas baru mereka masing-masing. Yang tahun lalu kelas tiga hari itu masuk ruangan kelas empat, dulu belajar di ruangn kelas empat masuk ke kelas lima, tahun lalu kelas lima masuk ke kelas enam. Kelas dua menunggu anak kelas satu baru keluar. Kelas satu dan kelas dua mengunakan ruangan yang sama. Aku pulang bersama amak. Amak membimbingku melintas jalan raya. Beriring bersama si Ing, si Rudi, si Jum dan teman-teman yang searah ke kampung.  

Setelah beberapa hari sekolah aku mengerti sekolah tidak untuk bermain. Bermain-main, ya, di rumah sepulang sekolah. Tiap pagi lonceng berbunyi dipukul bu guru, semuanya membuat barisan, kemudian olahraga senam jasmani, langkah-langkah senam anak kelas satu acak-acakan, banyak salah, masih mengikuti gerakan-gerakan kakak kelasnya. Baris sudah diatur dari kelas paling tua, kelas enam dan yang dibelakang sekali kelas satu. Satu orang kakak kelas enam bertindak sebagai komando. Siapa barisan yang rapi duluan masuk kelas. Yang duluan masuk kelas merasa senang seolah-olah menang.(*)


kepada teman-temanku, SD N 02 Guguk, semoga ceritaku ini bisa mengingatkan kembali sewaktu hari pertama di kels satu Juli 1983.



Tuesday, May 1, 2012

TUG BOAT MELEDAK

Pagi sudah cepat tiba, waktu subuh pukul empat kurang setiap pagi. Ia akan mundur terus sampai puncak musim panas nanti. Udara terasa segar menemani aku berangkat bekerja, pendingin udara bis yang membawaku sudah diperlukan dengan diatur sedang. Beda dengan bebepa bulan lalu musim dingin, pagi yang kadang-kadang berkabut dan tidak perlu pendingin udara. Hari itu aku seharusnya libur terahir, tetapi berdasarkan jadwal, aku harus bekerja ekstra, aku harus ke pabrik lagi meninggalkan anak, istriku tercinta
.
Seperti biasa sesampai di kabin sebelum keluar, ke lapangan. Aku mempersiapkan sesuatunya, dan serah terima dari teman shift malam, temanku bukannya menceritakan kondisi pabrik sebagaimana biasanya. Tetapi lansung bercerita tentang kengerian, sedih dan pilu yang dia lihat lansung kemarim malam.

“Ada sekitar beberapa mayat manusia di geletakin di area camp pelabuhan. Diantaranya beberapa orang bangsa kita” kata Abang itu. Di area pelabuhan, di pabrik tempat aku bekerja ada camp atau akomodasi para pekerja di Tug Boat. 

“Innalillahi wa ina ilahi rajiun”.

“Apa yang telah terjadi bang?”

“Kemarin, selesai magrib sebuah Tug Boat meledak, ngeri kali aku lihatnya, bangkai manusia digeletakkan disitu yang sudah hangus dan hitam dan tidak berbentuk lagi” cerita abang yang teman kerja aku dengan logat medannya.

Tug Boat. Pertama kali aku tahu sewaktu aku masih kecil melihat di pelabuhan pertamina Dumai, kata saudara sepupuku itu “kapa tundo”. Dahulu aku takjub melihat kapal kecil kuat bisa mendorong kapal besar. Aku bisa melihatnya setahun sekali, itupun jika diajak nenekku “makgaek” berlibur ke Dumai. Sekarang sehari-hari pemandanganku sudah biasa melihat Tug Boat tidak berhenti-hentinya mendorong dan menarik kapal-kapal tanker yang ukuran sebukit di depan dermaga area pabrik tempat ku bekerja.

Kapal itu tugasnya memakirkan kapal-kapal besar dengan mendorong atau menarik, mengawal, ke pelabuhan sampai kapal-kapal itu merapat dengan sempurna pada posisi yang tepat di dermaga. Karena kerja kapal itu mendorong, maka aku menyebutnya “kapa tundo”. Satu Tug Boat itu ada satu team atau grup yang terdiri beberapa orang. Yang menjalankan kapal ini disebut “pilot”, anggotanya salah satu nya di sebut “mooring crew” dan kadang-kadang ada engginer mekanik, listrik dan istrumennya juga.

Aku tidak bisa membayangkan cerita abang yang teman kerjaku itu. Katanya lagi, dia memastikan betul benar atau tidaknya ada orang kita yang menjadi korban kebeberapa orang yang berkerumun disana, ke orang Indonesia juga, yang bekerja di Tug boat lain. “Orang kita” biasanya kami mengucakannya untuk “Orang Indonesia”. Cukup banyak orang kita bekerja sebagai mooring kru dan pilot Tug Boat di area pelabuhan ini.
“Ya, betul pak, salah satunya namanya Ismail dia baru saja di pindah ke Tug Boat itu”. Begitu abang yang teman kerjaku itu megatakan kata, dari orang yang dia tanya kemarin malam, 29 April 2012.

Ya Allah, semoga saudara-saudara kita itu tenang di sisi Allah, mereka mati sahid, pergi dalam masa berjuang, menafkahi keluarganya. Hatiku tersa pilu dan ngilu, tersayat-sayat mendengarkan dan membayangkan kejadiaan itu. Aku tahu sendiri bagaimana kehidupan saudara-saudara kita itu bekerja dan tinggal di camp pelabuhan, tempat tugas mereka. Arealnya dekat dengan lokasi aku bekerja. Pernah sesekali aku berjumpa dengan salah seorang dari mereka, ketika mereka merapatkan kapal kargo sulfur di dermaga depan lokasi dermaga pabrikku. Aku bertanya ke bapak-bapak itu,  dari informasi bagaimana mereka sampai bisa bekerja disini, fasiltas apa yang mereka dapat, sekali berapa bulan mereka pulang untuk berkumpul dengan keluarganya di Indonesia. Informasi dari bapak itu, mereka setiap enam bulan sekali pulang ke Indonesia bertemu keluarganya. Tidak boleh ke kota, keluar dari area pelabuhan. Untuk keluar area pelabuhan, melewati pintu security imigrasi. Benar atau tidak aku tidak tahu pasti seolah-olah mereka disini harus punya visa kalau keluar dari area pelabuhan. Betapa menjenuhkan keadaan mereka.

Aku sedih dan tidak bisa membayangkan. Perasaan keluarga mereka, aku merasakan mereka adalah diriku, bagian dari keluarga mereka. Berbulan-bulan terpisah, tiba-tiba tejadi semacam ini dan berakhir, terpisah selama-lamanya. Ya Allah, kuatkanlah keluarga saudara-saudaraku yang mengalami musibah dan takdirMu ini. 

Pagi cerah ini serasa redup bergulung dengan gelap dalam pikiranku. Mencari hidup untuk kehidupan keluarga agar lebih baik dan jauh di negeri orang, tiba-tiba pulang dengan membawa kesedihan buat keluarga.
Memang sudah takdir, tidak ada jalan kecuali hanya berserah kepadaNya. Siapapun makhluknya akan pergi meniggalkan keluarga  dan semua yang ada di dunia. Semuanya sudah tentu paham, bahwa kita menumpang hidup di dunia ini dan sebentar saja. Untuk itu kita dapat perintah memanfaatkan waktu selama hidup sebaik-baiknya serta memanfaatkanya untuk modal ketika kita sudah habis masa menumpang didunia ini nanti dari Sang Pencipta. Allah telah menagajarkan kita, dan memberikan kita cara memanfaatkan waktu ini, untuk bisa menjadi modal di akhirat nanti melalui rasulnya Nabi Muhammad SAW. Betapa besar dan sayangnya Allah kepada kita, sudah di kasih hidup menumpang gratis, dikasih kesempatan untuk mendapatkan sesuatu yang jadi modal ketika pergi nanti.

Semoga saudara-saudaraku yang pergi karena ledakan Tug Boat, berbahagia disisiNya. Pergi dengan membawa oleh-oleh yang telah mereka kumpulkan selama ini didunia. Yang pasti mereka pergi dengan sahid sebuah bekal dan modal besar yang mereka bawa kehadapan Allah. Ku merasa sedih, kita pasti sedih dan yang pasti lagi, semua sanak saudara mereka serta keluarga meraka di Indonesia lebih sangat-sangat sedih. Aku percaya, dia bahagia menuju sorganya Allah.
Maasalah Tug Boat itu yang meledak, sehingga beberapa saudara kita itu pergi, sudah takdir Allah cara memulangkan umatnya.

Bagaimana dengan kita yang masih mempunyai masa menumpang ini? Apakah mampu mengumpulkan oleh-oleh untuk dibawa ke kampung akhirat nanti? Dan kita tidak tahu dengan cara apa kita pulang.
Ya Allah, ya Tuhanku, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Sayangilah aku seperti engkau telah menyayangi umat-umatMu terdahulu yang sudah dapat jaminan tinggal di surga, sayangilah saudaraku yang sudah pergi ke sisiMu, lapangkanlah alam kuburnya, dan sayangilah saudara-saudara mereka dan keluarga mereka yang ditinggal, serta berilah mereka ketabahan.

Siang  yang terang, debu sulfur yang terbang menguap lalu jatuh dimana-mana di area pabrik tempat kerjaku. Mesin-mesin pabrik berputar seiring waktu berjalan. Sampai sore menyambut, kabut datang dan pergi ditiup angin diatas pelabuhan kawasan Terminal Ras Laffan. Kadang-kadang meredupkan terangnya matahari. Lalu, kandang-kadang terang lagi. Udara tetap panas, hujan takut turun. Kengiluan dan kesedihan hati terus menyelimutiku. Pertukaran waktu kerja yang kami sebut pertukaran shift, disambut azan magrib. Dua belas jam sudah aku bertugas hari ini. Ku kerumah dengan pikiran luka. Di rumah sebelum beranjak tidur, sebuah siaran TV swasta Indonesia menyiarkan berita sekilas dan cepat, “60 detik”  tanpa video, hanya gambar peta sebuah negara yang ku tinggali sekarang, dilayar itu sebuah titik mengedip-ngedip petanda lokasi berita yang disampaikan, “sebuah tug boat meledak di pantai kota pelabuhan utara Negara Qatar, dengan menyebutkan jumlah korbannya.”(*)

Friday, April 27, 2012

MENDAFTAR MASUK SEKOLAH

Mesin rambut manual tua itu menjelajahi kepalaku maju naik keatas berulang ulang yang digerakan tangan apakku. Denyit derik giginya begitu cepat memotong helai-helai dari pangkal rambutku. Lumayan masih berfungsi dengan bagus karena selalu diolesi pelumas dari minyak makan.

“Aduh” mukaku menyeringit sesekali mesin di tangan apak menjinjit rambutku, ketika gigitan giginya belum tuntas memutus batang rambutku, karena apakku mendorongya agak kekencangan.

Lalu apakku memperlambat dorongan tanganya dan mempercepat gerakan jepitannya.
Kepalaku tertekan menunduk. Dingin dan sejuk rasanya ketika perut mesin menyentuh kulit kepalaku.

Biasanya apakku memangkas rambut di samping kanan rumah. Dengan peralatan, mesin pangakas tangan, gunting, sisir, botol kecil berisi air sabun, sikat ijuk halus, pisau cukur, kain putih dan ikat pinggang kulit yang sudah tidak terpakai untuk pengasah pisau cukur. Tukang pangkas rambut adalah pekerjaan tambahan apakku sebagai tambahan untuk mendapatkan uang pembeli beras buat amak. Biasanya pada hari jumat pagi, pelanggan apakku ada saja yang datang. Tetapi saat memotong rambutkku pada hari itu dilakukan di bawah sebuah pohon jambu. Pohon jambu yang rindang, daunnya lebat dari cabang-cabangnya.

Di depan rumah sebelah kanan dan samping kanan agak kebelakang rumah ada sebatang – sebatang pohon jambu air. Yang didepan sebatang lebih tua usianya dari pohon yang dibelakang. Kedua pohon jambu itu tumbuh subur, daunnya rindang dan rimbun, buahnya sangat lebat kalau musim berbuah.

Aku tahu pohon yang agak kebelakang itu hasil cangkokan dari pohon yang didepan. Aku melihat sendiri uyangku yang mencangkoknya, lalu menanamnya ke belakang setelah ada urat tumbuh dari batang cangkokan dengan menggunakan serabut kelapa. Sebenarnya pohon itu tidak terlalu kebelakang rumah betul. Dibelakang, tetapi sejajar dengan posisi dapur. Tidak melewati batas dari belakang rumah. Kata Uyangku kalau memindahkan tanaman pekarangan rumah dari depan ke belakang atau sebaliknya, maka si penghuni rumah satu persatu akan sakit, dan sakitnya tidak akan bisa sembuh diobati. Lama kelamaan satu persatu juga penghuni rumah akan meninggal. Istilah orang tua-tua di kampungku menyebutnya “Talopantang”. Ini suatu keyakinan yang tidak benar bahkan mengurangi keimanan dan ke-Tauhidan kita, setelah aku tahu dikemudian hari.
Sewaktu uyangku menyampaikan tentang “Talopantang” ini kepadaku, aku hanya berkata “oooo…”. Apalagi waktu itu aku masih kecil belum lagi masa sekolah. Usiaku masih kurang dari enam tahun.
Kecuali obatnya harus mencabut kembali tanaman yang telah ditanamanya.

Begitulah sebab adanya pohon jambu yang agak dibelakang itu tumbuh dan tidak melewati batas rumah pada bagian belakang. Pohon jambu itu sebagai saksi dalam sejarah hidupku awalnya aku akan memasuki dunia sekolah. Dibeberapa ranting-ranting dari dahan jambu itu tempat bersarangnya burung-burung pipit karena rindang. Setiap pagi datang, nyanyian pagi dengan kokok ayam serta cicit suara burung pipit yang berumah di pohon jambu itu ramai terdengar. Seiring meningginya mentari pagi suara riuh binatang pagi itu menghilang lalu sunyi dengan berjalannya waktu. Nyanyian dan suara kokokan serta cicitan akan datang lagi sejalan perputaran hari. Begitu seterusnya. Jika musim berbuah kelelawar setiap malam akan berkunjung menikmati buahnya yang manis, pagi hari akan banyak buah-buah jambu itu berjatuahan dan bekas gigitan kelelawar.

Seperti biasa apakku memotong rambutku bila sudah panjang, dengan tanda kalau rambut bagian depankku sudah mengenai alis mata. Meskipun bagian belakang dan bagian atas rambut kepalaku tidak terlalu panjang. Badanku diselimuti dengan sepotong kain agar potongan rambut tidak lengket ke baju. Aku tidak suka dipotongin rambutnya oleh apakku. Karena model potongannya tidak bagus menurutku. Tapi kata apakku bagus, dan bagus. Karena hampir setiap anak kecil dan belum disunat di kampungku model pangkas rambutnya hampir sama.  Kepala bagian belakang, samping kiri dan kanan dipendekan sampai tinggal setengah senti atau bahkan licin seperti botak, sedangkan bagian diatasnya masih ada rambut dengan ukurannya yang agak lebih panjang dari pada bagian samping dan bagian belakang. Namanya pangkas tentara. Bagiku setiap anak di pangkas seperti itu pertanda anak masih kecil dan belum sunat. Meskipun aku benar benar masih kecil tetapi aku malu dipangkas seperti itu dan aku malu dikatakan anak kecil.

“Di,… dedy…. dima ang?” dari arah depan rumah terdengar suara anak laki-laki sebaya dan berteriak-teriak memanggilku seperti main petak umpat saja karena teriakannya tidak dapat sambutan. Suara teman bermainku yang sudah tak asing bagiku.

Aku susah menjawabnya, apakku menekan kepalaku kebawah, leherku sedikit terjepit karena menekuk, apakku sedang memotong rambut bagian belakang kepalaku.
“Disini disamping rumah belakang”,  Apak menyahut.
“Ada apa?” teriak apakku.

Gedebag-gedebuk halus bunyi langkah lari telapak kaki kecil menginjak tanah berumput disamping rumahku dari depan mendekat ke arahku. Dengan nafas ngos-ngosan seperti orang di kejar penjahat.

“Dedy, dy,… dd….di” nafasnya satu satu sambil menyebut namaku, membungkuk, kedua tanganya menupang lututnya seperti orang rukuk sholat. Karena wajahku tertunduk ke tanah mengikuti aturan pangkas apakku. Padahal kalau pun dia berdiri posisinya kepalanya sama dengan kepalaku karena aku duduk di kursi setinggi perutnya.

Sedikit merunduk, masih ngos-ngosan dia melanjutkan kalimatnya yang terputus, “Di, ayok , ayok sekolah, sekarang kita sudah bisa masuk sekolah”.  Aku belum menjawab panggilanya dia sudah langsung memberitahu.

“Sekolah?” jawabku heran.

“Iya,..kita sudah bisa sekolah kata uda-uda, uni-uni ku” dengan antusiasnya, sambil berdiri di depanku.

“Amakku bilang ajak kamu juga kalau mau sekolah, kitakan samo gadang” menyampaikan pesan amaknya.

“Iya, tapi aku masih potong rambut nih” sahutku dengan kepala dan leher posisi terbungkuk.

“Nanti ya, si Dedy masih potong rambut” bapakku menyetujui ajakan nya.

Dia adalah si Ing panggilan akrabnya. Abah dan Amaknya mengasih nama lengkapnya Rinaldi, tetapi aku memanggilnya Ing, mengikuti kakaknya, karena kakaknya juga memanggil demikian. Si Ing tidak hanya teman sepermainan dan sama besar denganku, namun juga badunsanak atau saudara.

“Kita itu badunsanak dengan keluarganya si Ing, karena kita sesuku. Orang-orang yang satu suku dengan kita itu namanya dunsanak sasuku” begitu pada suatu hari amakku menjelaskanya padaku.

Keluarga-keluarga di setiap rumah di kampungku yang saling berdekatan rumah, biasanya bersaudara, yang disebut badunsanak. Badunsanak, ialah untuk sebutan saudara yang ada ikatan darah, selain itu juga badunsanak digunakan untuk sebutan saudara sesuku. Tetangga badunsanak ini karena sejarahnya dari jaman dahulu di kampungku, dari nenek moyang kami. Mereka berasal satu keluarga, ayah dan ibu yang mempunyai anak anak, hidup dalam rumah besar atau rumah gadang diatas tanah pekarangan dan kebun yang luas. Khusus di kampungku rumah gadang itu bukan seperti rumah gadang minang bearatap bergonjong umumnya. Rumah gadang ini rumah kayu besar dan luas memanjang dari depan ke belakang sampai dapur. Jaman dahulu, jarak rumah dengan rumah sampai puluhan meter atau ratusan meter dengan tetangganya. Sejalan dengan berputar waktu, keluarga di atas rumah gadang itu berkembang lalu menikah dan bekeluarga, maka tanah disekeliling rumah itu dibagi -bagi. Kemudian keluarga-keluarga yang mendapat bagian itu membangun rumah  untuk keluarganya masing masing. Begitu seterusnya sampai turun temurun berdiri rumah- rumah disekitarnya berdekatan. Dimana penghuni rumah tersebut masih ada hubungan keluarga kalau diurut turunannya keatas. Masih satu nenek atau kata amakku “sa anduang”. Dunsanak sesuku inilah yang diceritakan amakku,”kita sekeliling rumah ini semuanya sesuku”
Garis keturunan Minang menurut matrilineal menurut keturunan ibu, maka dari itu di sebut senenek atau sa anduang.

Begitulah antara rumahku dengan rumah si Ing bertetangga dengan jarak beberapa meter di batasi sebidang kebun. Yang terdekat, seusia, jadilah dia teman mainku sehari-hari selain dua adik ku si Al dan si Wel yang masih bayi.
Teman sebaya dengan aku dan yang badunsanak, ada juga si Rudi, si Men adik si Rudi dan si Jum selain si Ing. Tetapi aku akrabnya hanya dengan si Ing. Rudi dan Men anak yatim, mereka diasuh oleh andungnya. Ibu si Rudi meninggal ketika melahirkan si Men, si Men diberinama oleh kakak ibunya dengan nama lengkap Alirmen, artinya anak lahir ibu meninggal. Usia si Men hampir sama dengan adikku si Al yang nomor dua.
Diantara kami berempat sebaya, Rudi, Ing, Jum dan aku, yang paling kecil umurnya adalah aku. Yang paling besar si Jum, kemudian si Ing. Karena si Jum anak perempuan, maka aku tidak akrab bermaian dengannya. Nama lengkapnya  Zulhelmita, dia juga anak yatim, ketika si Jum masih kecil sudah ditinggal oleh ayahnya.  Lalu si Rudi, dan terkecil aku. Kami lahir hanya berbeda bulan. Amak yang paling muda diantara ibu-ibu kami adalah amakku. Cerita amakku bahwa sewaktu aku dalam kandungan, amakku sudah mempersiapkan nama aku kalau lahir nanti, dengan nama, Rudi. Tetapi amaknya si Rudi lebih duluan melahirkan beberapa hari dari amakku, kemudian amaknya si Rudi memberi nama Rudi ke bayinya. Akhirnya amakku pengganti nama yang sudah disiapkan untuk bayinya ketika aku lahir.

Tentang sekolah, aku tahu dari cerita si Ing suatu ketika bermain-main denganku. Si Ing mengerti lebih dulu karena dia anak bungsu. Dari mengerti melihat kakaknya dan di kasih tahu olek kakaknya. Dia mempunyai kakak-kakak  banyak yang sudah bersekolah semua, bahkan udanya sudah ada yang sekolah di SMA. Tinggal dia satu satunya yang belum sekolah dikeluarganya. Abahnya, begitu dia menyebut ayahnya, adalah seorang pegawai negeri di dinas pendidikan dan kebudayaan. Amaknya ibu seorang rumah tangga.

“Di, sekolah itu enak tau, kalau sudah sekolah tiap hari dapat uang jajan, banyak teman bermain, pakai baju dan pakai sepatu. Seperti uda-uda dan uni-uniku.” Dengan mata berbinar-binar  si Ing menceritakan pengetahuannya tentang sekolah padaku sambil bermain-main tanah di halaman rumah si Jum pada suatu hari.

“Wah,..enak ya, bisa pakai sepatu setiap hari dan dapat uang jajan?” ku memastikan pengetahuannya.

“Iya” dia menyakinkan ku.

Ya, aku ingat kembali cerita si Ing tentang sekolah, sebenarnya aku sudah lupa tentang itu. Hari ini si Ing memutar memoriku lagi yang masih tersimpan dalam ingatanku.

Pergerakan leher dan kepalaku belum bisa bebas. Bapakku belum selesai memotong rambutku. Aku masih dalam aturan pangakasan rambut apakku. Ku mendelikkan bola mataku ke atas untuk bisa menatap si Ing yang tidak sabar menungguku. Aku membayangkan pakai sepatu. Sesuatu barang mewah yang bisa aku pakai tiap hari nantinya. Karena, jagankan sepatu, sandal jepit saja aku hampir tidak pernah memakainya. Apak dan Amakku mana mungkin mampu untuk membelinya. Tetapi aku sudah punya sepatu yang di beli amak hari raya kemarin. Sudah bekas dan tidak baru lagi. Tapi masih cukup di kakiku. Biasanya amakku begitu, membeli sesuatu yang aku pakai seperti baju atau sepatu, dia akan memilihnya diatas ukuran aku, katanya bisa dipakai tahan lama. Bukan tahan lama karena barangnya berkwalitas bagus atau mahal, tetapi pertimbangan amakku,  kalau ukuran badanku bertambah setahun lagi pakaian itu masih muat aku pakai.

Sepatu itu masih disimpan amakku, barang mewah itu akan dipakai kalau tujuan pergi-pergi. Misalnya bila pergi ke pasar di kota Padang Panjang.

“Kalau sekolah nanti, aku bisa pakai sepatu tiap hari, wah enaknya?” khayalanku dengan persaan senang.
“Ayo pak, sudah selesai belum pangkasnya?” desakku, kakiku mengantung duduk dikursi pangkas ku ayun-anyunkan.

Apakku sudah tidak memegang mesin pangkas rambut lagi. Sreseng-seng bunyi gunting antara dua matanya beradu memotong ujung ujung rambutku yang dimainkan apakku. Potonganya tinggal merapikan bagian atas nya saja.
“Sebentar lagi” apakku terus memainkan guntingnya.

“Ayo di, amakku sudah menunggu, aku akan diantar amakku sekolah” si Ing dengan semangatnya, tidak sabar menunggu aku.

“Iya ing, aku mau sekolah, tunggu aku ya”, aku pun sudah tidak sabar capet selesai potong rambutnya.

“Ya udah, aku pulang dulu, mau ganti baju, dan pakai sepatu, aku tunggu kamu di rumah ku” si Ing membalikkan badannya lalu meancang-ancang seperti orang mau pacu lari. Kemudian kakinya melenting lenting lagi berlari meninggalkan aku.

Tidak berapa lama si Ing pergi, apak selesai memangkas rambutku.
“Amak,…. Amak,… mak!” teriakku dengan tidak sabar untuk pergi sekolah bersama si Ing. Aku memanggil amak sambil berlari ke dapur menghampirinya.

“ya, ada apa?” sahut amakku sambil menggiling cabe tanpa menolehku.

“Mak, ayo antarin aku ke sekolah, kata si Ing hari ini orang orang sekolah, aku sudah bisa sekolah katanya” jelas ku.
Tangan amakku tidak lepas memegang anak batu cabe mengesek-geskannya ke induk batu yang berisi cabe sambil duduk di bangku kecil di lantai dapur untuk merobahnya menjadi sambal lado.

Khayalanku sudah terbang melambung tinggi membayangkan aku sekolah, bisa pakai sepatu tiap hari, pakai baju seragam dan bermain dengan banyak teman lalu dapat uang jajan. Aku belum mengerti apa itu sesungguhnya sekolah. Umurku sudah beranjak tujuh tahun, bagiku sekolah itu tempat bermain yang menyenangkan dan bagus. Bermainnya tidak lagi di rumah, lari lari kesana kemari sekeliling rumah rumah dengan kaki telanjang tanpa sandal dan tidak lagi digelari anak-anak lagi oleh kakak teman bermainku. Jadi selain menyenangkan menurutku sekolah akan merobah predikat dengan julukan anak-anak menjadi anak yang sudah besar. Aku merasa bangga kalau dikatakan sudah besar. Perasaannya kalau dikatakan sudah besar adalah suatu kebanggan bagiku.

Tetapi yang tidak aku mengerti kata uda uda uni-uni sekelilingku, suatu hari pernah mengatakan kalau mau sekolah syaratnya salah satu tanganku harus bisa memegang daun telinga dengan cara melingkarkan tangan keatas kepala, kemudian telapak tanganku bisa memegang daun telinga. Aku di tesnya melakukan seperti itu. Badanku yang kurus kecil, tangan masih pendek, otomatis aku tidak bisa melakukan itu. Aku coba berkali kali, tapi tetap saja tidak bisa, tanganku tidak sampai memegang daun telinga. Memang sebenarnya pertumbuhan tubuhku belum bisa melakukan hal seperti itu.

“Ha,,ha…ha…kamu masih kecil, belum bisa masuk sekolah” uda-uda uni-uni mencandain aku, meledek, dan mengerjai aku yang masih polos. Begitu juga kalau berhitung, mereka mentertawai aku, karena aku hanya bisa menghitung sampai sepuluh.
“Kalau kamu bisa berhitung sampai seratus baru bisa masuk sekolah, kalau anak yang belum sekolah berarti masih kecil” jelas mereka.

“Yah, aku mana bisa menghitung sampai sepuluh” dengan rasa sakit hati aku di bilangin seperti itu.
Syukur aku bisa berhitung sampai sepuluh, itu karena ikut-ikutan si Ing atau si Jum.  Si Jum juga anak bungsu, kakak-kakaknya ada yang mengajarin, seperti si Ing. Kalau aku, siapa yang akan mengajari?  Aku tidak punya kakak,  amak dan apakku mana mungkin, dia sibuk terus mencari yang akan dimakan. Aku hanya dilepas bermain dan bermain.

“Kamu masih kecil,” kalimat yang menyakitkan dan menyebalkan bagi aku. Aku akan bangga jika dikatakan sudah besar. Aku mau cepat besar. Kalau sudah besar, artinya aku bisa bermain bersama uda-uda dan uni-uni.

Begitu si Ing memberitahu dan mengajakku untuk sekolah, aku benar-benar tidak sabar lagi, agar amak mengantarkan aku secepatnya sekolah. Biar nanti aku tidak dianggap anak kecil lagi.  Sehingga aku sudah lupa yang dicandain uda-uda dan uni-uni teman mainku bahwa syaratnya masuk sekolah itu tangan harus bisa memegang daun telinga ketika salah satu tangan dilingkarkan ke atas kepala, dan bisa berhitung lebih dari sepuluh.

“Mak, lama benar sih? ayolah cepat, nanti terlambat, si Ing sudah menunggu tu” rengekku.

“Iya, iya tunggulah sebentar lagi selesai, amak selesaikan membuat sambal lado ini” sambil tangannya terus menggoyang maju mundur anak batu cabe.

Ketidak sabaran ku hilang ketika amakku bilang ”Ayolah, ganti baju”.

“Horeee,…” dalam hatiaku berteriak, melonjak kegirangan.
“Mana baju yang akan di pakai mak?” aku mengusai tumpukan baju-bajuku dikamar yang tidak pernah dilipat apalagi disterika.

“Pakai yang ini!” Amakku mengeluarkan baju dari lemari.Lemari baju kayu, tempat menyimpan pakaian yang dipakai katergori sesekali. Seperti kain sarung sembayang apakku, baju kebaya amakku dipakai ketika pergi baralek dan bajuku dengan adikku yang dianggap paling bagus.

“Itukan baju hari raya mak, itu bukan baju sekolah, kata si Ing baju sekolah itu putih dan celana merah” protesku.

“Tidak apa-apa baju ini saja dulu untuk sementara, nanti kalau apak sudah punya uang, baru kita beli baju sekolah” bujuk amakku.

Aku menurut saja tanpa keberatan, memang itu baju terbagus yang aku punnya, kaos coklat belang belang dengan coklat tua dan coklat muda. Amakku memakaikan celana pendek yang warnanya coklat juga. Celana itu didapat dari pemberian orang. Amakku sering dikasih pakaian pakaian bekas orang lain disekitar kampungku. Pakaian yang sudah tidak dipakai lagi oleh pemiliknya karena sudah kecil tapi masih layak pakai. Kalau ada orang memiliki pakaian bekas untuk dibagi-bagikan maka pilihannya, ke amakku orang yang layak di beri. Keluarga miskin dan tidak mampu.

Aku sangat senang sekali. Pakai sepatu kain bewarna hitam, baju kaos coklat yang ku pakai untuk lebaran yang lalu. Rambutku yang hanya tersisa di bagian atasnya saja dan berdiri, tegak seperti ijuk karena sudah dipendekan apakku  jadi tidak perlu disisir lagi. Bagian samping kanan, kiri dan belakang kepalaku sudah licin tanpa berambut. Warna kulit kepalanya yang menyatu dengan kulit leher dibedakan dengan warnanya saja. Kalau di bagian tidak berambut, jika diusap-usap serasa sikat kain kasar dengan bulu-bulunya yang kasar. Apakku tidak pernah mengerti protesku, ketidak sukaan ku potong rambut model pangkas tentara katanya ini. Aku benci kepalaku seperti ini, karena akan dikategorikan “aku anak kecil”.
Potongan rambut itu yang membuat identitasku masih anak-anak kata uda-uda dan uni-uni. Aku tidak mau, tapi tidak bisa menuntutnya ke apak. Padahal usia tujuh tahun bagi orang-orang tua, seperti apak dan amak tentulah aku memang masih kecil.

Sampai disekolah.  Dikemudian hari aku tahu, sekolahku, SD Negeri 2 Guguk, tidak ada orang bersekolah hari itu. Ruangan sekolah yang pintunya buka hanya satu ruangan bagian pertama.
Dalam ruangan itu ada tiga orang guru didalamnya. Dua ibuk-ibuk dan satu orang bapak. Bapak itu badannya gemuk besar dan gendut. Setelah aku sekolah kemudian aku tahu itu adalah bapak kepala sekolah, namanya bapak Dinar.

“Silahkan masuk buk” begitu ibu-ibu itu menyambut kami setelah menjawab salam. Amak dan amak si Ing sudah kenal dan akrab dengan ibu itu.
Aku hanya diam  sambilmemperhatikan disekelilingku dalam ruangan itu yang ada lemari dipenuhi buku-buku. Bagian depan bukunya tidak tampak, disusun berdiri kelihatan warna-warni tebal dan tipis tegak. Ada satu set kursi tamu dari rotan yang dibingkai lengan dan kakinya tebuat dari kayu  tempat kami duduk. Didinding bagian tas dibelakang tempat duduk bapak gemuk besar itu ada dua foto bapak-bapak, di tengahnya gambar burung dengan sayap membentang kanan dan kiri. Didada burung itu ada gambar yang tidak aku mengerti, belakangan setelah aku sekolah aku mengerti, bahwa itu foto presiden dan wakilnya serta lambang Negara Republik Indonesia.

“Namanya siapa?” Tanya salah seoarang  ibu guru itu, sambil membuka buku besar dan tebal.
“Dedy, bu” jawabku malu-malu dan senang.
“Saya Rinaldi buk” si Ing menjawab pertanyaan ibu itu tanpa ditanya.
Ibu guru itu senyum menjawab “iya, Rinaldi ya”.

Selanjutnya ibu itu bertanya kepada amak si Ing dan amak bergantian, menanyakan tanggal lahirku, pekerjaan apak dan amak, dan sebagainya.  Kulihat ibu itu sambil memegang pena mengerakanya di atas buku besar dan tebal itu, di ujung pena itu tergores berbentuk tali-tali seperti coretan tetapi rapi, yang aku tidak mengerti apaan itu.

“Mana orang sekolah?” batinku bertanya-tanya penasaran.

Aku tidak tahu apa dalam pikiran si Ing, katanya kita bisa sekolah hari ini.
“Dimana tempat mainya?” dalam hati aku menegok keluar kaca nako ruangan itu.

Wajah si Ing sesekali melirikku tanpa bicara, diam, senang-senang saja disamping amaknya yang lagi berbicara dengan ibu-ibu guru dan bapak dalam ruangan itu begantian dengan amakku.

“Yok pulang” begitu amak si Ing mengajak dan beranjak keluar ruang yang dikatakan si Ing itu, adalah sekolah. Begitu ibu guru bilang “Sudah selesai”.

“Kok pulang?” dalam hati aku heran. Aku merasa kecewa. Serasa dibohongisi Ing.Ku perhatikan si Ing tanpa bersalah dan tampak biasa-biasa saja untuk balik pulang.

“Mak, kita kemana sekarang?” aku memastikan ajakan amak si Ing.
“ Pulang?” kata amakku singkat terus melangkah.
“Kok Pulang?, kenapa pulang?, katanya aku bisa sekolah” protesku mengikuti langkah amakku.
“Hari ini belum dimulai sekolahnya”,  jelas amakku.
Aku heran menatap, kepalaku mendongak ke atas memperhatikan wajah amakku berbicara sambil jalan meninggalkan halaman sekolah.
“Nanti sekolahnya bulan depan”,  amakku meneruskan penjelasannya.
“Apaan itu bulan depan”,  hatiku berkata, aku tidak berani menanyakannya, aku bingung. Kalau bertanya lagi membuat aku bertambah bingung, lalu aku diam dengan penuh Tanya mengikuti langkah amak pulang ke rumah.

“Hari ini kita datang ke sekolah itu, untuk mendaftar dulu” amakku menenangkan pikiranku seolah-olah dia mendengar perkataan hatiku.

“Ah,..mendaftar?,  apaan lagi itu namanya mendaftar? tadi itu cuma ngobrol-ngobrol sama ibu guru itu, amak di tanya-tanya.” Dalam hati aku tambah tidak mengerti.

Si Ing ku perhatikan diamsaja, dia menurut saja.Sepertinya dia senang-senang saja.Kedatangan ke sekolah tadi itu sudah sangat menyenangkan baginya. Mungkin dia sudah mengerti tadi itu mengapa dan untuk apa, dan paham apa itu namanya mendaftar yang dijelaskan amakku. Dia berjalan lebih dulu beberapa langkah sambil melonjak lonjak lalu memukul-mukul daun rumput yang sedikit tinggi tumbuh di tepi jalan yang kami lalui. Seperti orang bersalaman saja.

Di usiaku yang akan memasuki masa usia sekolah dasar, hanya bermain yang aku mengerti. Belum paham apaan itu sebenarnya sekolah dan untuk apa. Sudah tujuh tahun usiaku. Bermain, sesuatu yang sangat menyenangkan dan suatu kepuasan dalam hidupku.

Di kampungku para orang tua umumnya belum mengenal namanya sekolah Taman Kanak-kanak yang disebut sekolah TK. Ada beberapa orang tua yang tahu, tapi tidak ada yang memasukanya ke sana sebelum masuk usia Sekolah Dasar. Di kampungku dalam Nagari yang terdiri empat desa belum ada sekolah Taman Kanak Kanak. Adanya di nagari Kayu Tanam, jaraknya dua kilometer dari desaku. Jarak yang cukup jauh, dibandingkan kalau sekolah di SD hanya beberapa meter dan cukup dengan jalan kaki. Sekolah Taman Kanak-Kanak itu pun biayanya cukup besar bagi orang tuaku, ada jemputannya disediakan sekolah. Biayanya lebih besar dari biaya sekolah SD. Sesuatu yang mustahil bagi orang tuaku menyekolahkan aku disana, menurut orang tuaku, itu namanya mebuang-buang uang. Sedangkan uang untuk beli beras dan lauk pauk sehari-hari saja susah sekali mendapatkanya, bahkan harus berhutang kalau sudah tidak punya apa-apa untuk dimakan.  Belum lagi kalau orang tua menyekolahkan anaknya di Taman Kanak-Kanak akan menyita waktu pagi hari, harus menyiapkan anak, mengantarkan ke tempat jemputan. Sedangkan orang tuaku pagi-pagi sekali harus cepat-cepat pergi ke sawah atau ke sawah orang untuk menerima upah.

Bagi orang tua yang mungkin mampu juga tidak ada yang memasukan anaknya sekolah ke TK itu. Rata rata orang tua di kampungku enggan menyekolahkan anaknya ke TK. Tanpa TK juga anak-anak mereka bisa lansung sekolah di Sekolah Dasar, begitu pendapat mereka.

(bersambung ke Ceritaku berikutnya)

Thursday, April 26, 2012

GEMPA LITERASI DADAKAN DAN NOBAR DI AL KHOR KOMUNITY QATAR

Langit mendung tipis ditutupi awan kelabu dari sejak sore di atas wilayah Al Khor, bak hari hendak hujan tapi tak kunjung tiba. Warna merah saga pertanda mentari berangkat keperaduan terlukis tipis dan membayang di atas sana, gelap waktu magrib datang begitu saja, hanya jam didinding sebagai petujuk waktu pasti dan kumandang azan dari menara mesjid. Di sebuah rumah di komplek perumahan buruh pabrik Ras Gas dan Qatar Gas, sebuah komplek komunity terbesar di Qatar yang terletak lebih kurang 50 km di utara kota Doha, yaitu rumah bapak Rizal salah seorang karyawan di Qatar Gas sedang ramai oleh anak-anak Indonesia penghuni komplek dengan ditemani ibu-ibu mereka. Ini adalah malam terakhir liburan sekolah mereka  pada pertengah liburan semester terakhir sejak tanggal 13 April 2012 sampai 21 April 2012. Dan akan menjadi liburan yang bersejarah besar  bagi mereka untuk menyambut hari sekolah besoknya. Karena akan diadakan workshop menulis serta akan mendapat pencerahan untuk bisa menjadi penulis.

Beberapa usia mereka ada yang beranjak remaja, laki dan perempuan sambil menunggu waktu. Keenganan hari yang mendung tak kunjung di basahi hujan tidak seperti semangat mereka yang tinggi, keinginan yang  besar, serta penuh kegembiraan, sedang menunggu kedatangan  Gola Gong, seorang penulis senior, pendiri Komunitas baca Rumah Dunia di kampung Ciloang, Serang-Banten, pengarang ratusan buku, bersama Tyas Tatanka.
 Semuanya larut dalam gelak tawa bahagia dan penuh semangat diacara yang tidak sengaja, mendadak dan bahkan tanpa rencana.  Karena beberapa hari ini warga Indonesia Qatar sedang menyambut tamu kehormatan dalam acara Gempa Literasi Asia, Gola Gong dan Tyas Tantaka. Qatar adalah kunjungan negara putaran terakhir setelah berturut-turut Singapura, Malaysia, Thailand, India, dan UEA.  Acara yang didukung penuh oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Doha ini berpusat di Doha saja, tidak ada dalam agenda panitia akan diadakan di Al Khor komunity. Karena Heri Hendrayana Haris nama lengkapnya Gola Gong, akan bersilaturahim ke rumah teman lamanya di Al Khor serta akan bernostalgia dengan beberapa warga Banten di Al Khor Komunity, karena malam minggu, 21 April 2012 ada pertandingan siaran lansung sepak bola, Barca vs Real Madrid untuk nobar. 

Kesempatan ini lah yang dimanfaatkan para orang tua di Al Khor komunity untuk meminta Gola Gong dan  Tyas Tatanka, terutama kalangan ibu ibu untuk memberi pencerahan, semangat kepada anak-anak mereka untuk menulis.

Kebahagian ibu-ibu beserta anak-anak mereka yang sudah menunggu bertambah ramai setelah Gola Gong dan Tyas Tatanka berkumpul besama mereka. Pengalaman Mas Gola Gong yang sudah mengunung menghadapi audience, para pengemar karyanya, tidak kehilangan akal untuk menyajikan acara dadakan ini menjadi acara yang berkualitas dan menyenangkan. Ternyata Gola Gong lupa membawa materi presentasi yang akan disampaikan, Yah,!!!… namanya juga tanpa rencana.

Yang paling penting bagi peserta dan ibu-ibu, adalah mutu, kualitas, makna pertemuan dengan penulis novel yang terkenal “Balada si Roy” ini, bisa bermanfaat banyak. Karena belum tentu setiap tahun punya kesempatan mendapat ilmu dari beliau. 

Peserta anak laki-laki dibimbing oleh Gola Gong dan anak perempuan di bimbing oleh Tyas. Mereka  sangat antusias dan dengan semangat tinggi mengikuti instruksi Gola Gong, seperti menggambar, lalu menuangkan isi gambar yang telah mereka gores menjadi sebuah cerita yang menarik. 

Mabk Tias Tatanka Bersama Remaja Putri

 Hiruk-pikuk anak peserta ini asyik, senang, bergembira sambil menuangkan khyalan mereka masing masing, sesekali mereka bertanya, ke Gola Gong  dan Tyas. Suasana santai, rileks tapi menarik malam itu.
“Hampir semua peserta memiliki keteramplian menulis, bagus semuanya dan bisa menyusun kalimat menjadi sebuah cerita menarik”, kata mbak Tyas membaca tulisan mereka lalu menseleksinya.

Anak-anak senang semua, ibu ibu mereka puas dan bangga. Dari beberapa mereka tulisannya yang terseleksi lebih bagus diberi penghargaan berupa hadiah yang sudah disiapkan oleh ibu-ibu mereka.
Waktu terlalu cepat berlalu, pergerakan jarum jam di dinding sangat terasa cepat, awan menambah gelap malam tanpa dingin di luar. Mas Gola Gong setiap sebentar mengamati perputaran jarum jam. Mungkin mengamati waktu siaran lansung bola sudah mulai apa belum. Para peserta masih banyak bertanya ke Gola Gong seputar pengalaman beliau dan tentang menulis. Mereka ingin mendapatkan ilmu sebanyak banyaknya.
Gola Gong dengan senang menjawab pertanyaan anak anak yang baru tumbuh dan berkembang itu serta beberapa pertanyaan dari orang tua. Gola Gong sedikit bercerita tentang masa kecilnya, kemudian memotivasi mereka belajar, menuntut ilmu serta tentunya menulis.  Ada yang menanyakan  trik dan tips serta bisa menjadi penulis.

“Semua orang punya potensi melakukan sesuatu  menggapai impian dan berprestasi, termasuk orang yang mempunyai kekurangan fisik seperti orang yang cacat bahkan ada orang yang kurang mampu secara ekonomi sekalipun dalam mencapai  suatu impian. Yang terpenting saat menggapainya harus tekun, rajin, berusaha terus-menerus, disiplin dan sungguh-sungguh” begitu Gola Gong memotivasi.
Anak-anak dengan wajah serius mendengarkan Gola Gong, semuanya merasa tidak ada yang sulit. Lalu bertambah terpana disaat Gola mencerita sedikit tentang masa kecilnya yang dibekali oleh bapak nya sebuah raket tenis dan buku-buku.

“What is the meaning “dibekali”? tanya salah seorang remaja putri.
Yang lain tertawa geli mendengar  pertanyaan itu, karena kosa kata bahasa Indonesia anak itu kurang dari anak anak yang lain. 

Sambil ikut tertawa, Gola Gong sedikit kesulitan menerangkannya dalam bahasa Inggris dengan tepat dan dimengerti remaja itu, sehingga dibantu oleh ibunya untuk memahaminya.

Dari raket itu akhirnya Gola Gong berhasil mencetak prestasi di beberapa Negara Asia menjuarai pertandingan tennis. Dan dari buku-buku, Gola Gong berhasil menjadi penulis yang dikenali banyak orang seperti sekarang.
Bersama Gola Gong, Membaca Karya Anak-anak
 “Begitu juga dalam  menulis, adik adik disini semuanya mempunyai potensi dan kemampuan dalam menulis. Apalagi adik adik semua yang disini, mempunyai fisik yang lengkap dan didukung fasilitas dan kemampuan ekonomi yang cukup dari orang tua” anak anak semakin serius mendengarkanya.

Lalu Gola Gong mebagi tips untuk bisa menjadi penulis “Berlatih menulis apa saja setiap hari minimal 2 jam. Tulis tentang apa saja, menceritakan suatu benda, orang , makhluk, lingkungan atau suatu kejadian, perasaan dan lain sebagainya”
Beberapa anak anak seyam-senyum tanda mereka paham.

“Dan Syarat dalam menulis suatu cerita, harus ada tokoh utama, setting waktu, tempat, kemudian dalam cerita tersebut harus ada konflik dan maasalah, kemudian penyelesaian konflik, dan terakhir ending” kembali begitu mengomentari tulisan-tulisan yang sudah dibuat oleh peserta malam itu.

Acara di tutup secepatnya, tidak hanya secepat waktu berputar tetapi karena mereka besok hari harus bangun pagi-pagi untuk sekolah. Selain itu karena siaran lansung bola juga sudah mulai 30 menit yang lalu. Gola Gong yang sudah di tunggui bapak bapak untuk nobar tidak sabar menunggu. 

Di rumah bapak Danu Warsito, dalam tawa dan canda menoton pertandingan Berca melawan Real Madrid di TV, Gola Gong geli melihat para bapak-bapak supporter Real Madrid merasa menang seolah olah jadi pemain bola di lapangan. Apalagi saat skor masih 0-1 untuk Real Madrid. 

Berapa lama kemudian supporter Berca bersama  Gola Gong merasa lega setelah skor berubah menjadi 1-1. Skor pertandingan tidak berubah-ubah cukup lama meski bola lebih banyak dikuasai Berca.
Dan “Galau” komentar Gola Gong saat skor sudah menjadi 1-2, apalagi disaat waktu sudah hampir habis. Bapak-bapak tertawa semua. Dan pertandingan selesai, Gola Gong bersama supporter Berca berlapang dada menyaksikan Real Madrid menang serta melihat keceriaan bapak-bapak supporter Real Madrid. Waktu sudah menunjukan jam sebelas malam lewat waktu Qatar, Udara terasa dingin dan lembab, mendung sore sudah menyibak, beberapa titik bintang mengintip menampakan cahayanya. Pertanda besok pagi akan cerah. Anak-anak Indonesia di Al Khor Komunity peserta Gempa Literasi di sudah bergelut bersama mimpi, siap menyambut hari pertama sekolah setelah liburan besoknya. Gola Gong sang peng-Gong Gempa Literasi Asia diajak istirahat di rumah bapak Rizal, untuk siap -siap terbang ke Indonesia besok malamnya. (*).